Ke Bromo bawa Davina? Hayo aja…

Tidak bisa dipungkiri Gunung Bromo adalah salah satu gunung api aktif yang memiliki pemandangan sun rise yang sangat indah, cantiknya luar biasa. Keindahan fenomena sun rise di Gunung Bromo bahkan terkenal sampai kemanca negara.Buktikan sendiri!! Lokasi tersebut tidak pernah sepi dari wisatawan asing yang berasal dari berbagai belahan bumi. Terutama pada saat awal musim kemarau, itulah saat terbaik menikmati Gunung Bromo karena langit pada pagi harinya sangat bersih dan biru. Gunung Bromo berada dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Awal ngerencanain ke Bromo, Mom dan Davina excited banget. Tapi ada satu hal yang mengganjal yang saya dan Mom khawatirkan, yaitu Davina, gadis lucu yang baru saja berusia 3 tahun. Kira-kira bisa gak ya Davina beradaptasi di lingkungan yang ekstrem begitu? Actually, Gunung Bromo sebenarnya adalah gunung ke-2 bagi mereka. Sebelumnya kami bertiga pernah main ke Taman nasional Gede Pangrango. Namun tentunya Gunung Bromo kan berbeda dengan Gunung Gede. Bagi saya sih sudah kesekian kali main ke  Gunung Bromo, dengan tujuan berbeda-beda tentunya. Mulai dari hunting foto bersama Komunitas Fotografer Semarang, juga dalam event lari ultra BTS 3oK.

Setelah mencari informasi yang cukup ternyata Gunung Bromo sebenarnya cukup aman untuk anak-anak asalkan dengan pengawasan orangtuanya. Dan yang paling penting adalah anak dalam keadaan sehat dan sudah bisa berjalan sendiri (idealnya minimal usia 3 tahun supaya mereka juga mulai bisa menikmati perjalanannya). Wah.. pas donk!!

Rekan-rekan saya di kantor banyak yang mengkhawatir saya untuk membawa anak-anak ke Bromo. Apalagi pada musim kemarau cuaca pada malam harinya akan sangat ekstrim alias dingin. Namun apa yang saya takutkan tidak terjadi.. Thanks God, suhu malam harinya pada saat kita ke sana tidak terlalu dingin.

Bromo bisa dicapai dari kota Probolinggo (jalur paling populer dengan jalan paling mulus), dan dari kota Malang. Untuk kali ini kami via kota Malang karena sehari sebelumnya kami bermain di Jatim Park 1 dan 2. Setibanya di Desa Ngadisari, kami langsung check in di Hotel Cemoro Indah di Desa Ngadisari. Sebelumnya saya pernah menginap di hotel ini dan sangat suka dengan pemandangan dari hotel ini yang langsung menghadap ke Gunung Bromo, tentunya harganya juga bersaing. Kali ini saya mengambil kamar yang deluxe (tipe paling mahal he..he..), selain kamarnya luas, keistimewaan kamar tipe ini kita dapat melihat Gunung Bromo langsung dari teras kamarnya.

DSC_0251
Salah satu kamar di hotel Cemara Indah, Ngadisari

Sorenya kami sight seeing di sekitar hotel melihat kehidupan masyarakat sekitar Desa Ngadisari. Mayoritas penduduk desa tersebut bermata pencaharian sebagai petani sayur. Sebenarnya di daerah sini juga banyak rumah/kamar di rumah penduduk yang dapat disewa sebagaia alternatif penginapan bagi budget traveller.

Sejak sore Davina sengaja kami pakaikan baju 2 lapis dan celana 2 lapis. Jadi pada saat kami naik ke Pananjakan jam 3 dini harinya, Davina gak perlu dibangunin untuk ganti baju dsbnya.. Kami juga sejak sore dan malam suah memakai pakaian yang akan dipakai besok diniharnya.

Setelah puas dengan jalan-jalan sore dan foto-foto sun set, kami pun makan malam di restoran hotel. Menu yang ditawarkan restoran tersebut cukup lengkap, mulai dari indonesian food sampai western food secara tamu-tamu mereka banyak juga yang bule.

DSC_0343
Davina makan mie goreng di restoran Hotel Cemara Indah

Malamnya kami istirahat lebih awal mengingat jam 3 dinihari harus bangun dan paling lambat jam 3.30 sudah harus berangkat menggunakan kendaraan 4WD Toyota Hardtop yang sudah kami sewa sebelumnya melalui pihak hotel.

Jam 3 saya dan Mom sudah bangun dan beberes perlengkapan yang akan dibawa. Roti, Termos kecil berisi air panas, Susu UHT untuk Davina, dll disiapkan oleh Mommy. Sesaat sebelum berangkat Davina masih tertidur lelap, walaupun dibangunkan tetap saja dia tidak bangun. Akhirnya kami pun menggotong Davina dalam kondisi masih tertidur ke dalam kendaraan. Dari hotel tempat kami menginap, perjalanan dengan menggunakan Toyota Hard Top  ditempuh selama kurang lebih 1,5 jam menuju Pananjakan 1. Selama perjalanan Davina tetap tertidur pulas walaupun kendaraan kami terguncang hebat ke kiri dan ke kanan.

Sesampainya di parkiran mobil, kami harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Pada saat ini Davina bangun dan rewel. Mungkin efek dari baru bangun tidur. Awalnya Davina mau naik ke baby carrier, namun baru jalan sebentar dia minta kalau harus mamanya yang menggendong. Karena tidak terbiasa, baru beberapa puluh meter Mommy terasa sangat kesusahan. Akhirnya Davina digendong manual saja menuju shelter Pananjakan 1. Sesampainya di Pananjakan 1 sudah banyak orang yang menunggu moment sun rise. Syukurnya..kami masih mendapat tempat duduk untuk menunggu. Sambil menunggu munculnya matahari terbit, kami menikmati coklat panas yang sudah disiapkan Mom dini hari tadi.

Pada saat matahari terbit Davina pun terbangun, kami pun menikmati pemandangan yang indah. Kami pun menyempatkan diri untuk mengambil foto. Kesulitan pada saat itu adalah semua spot dan tempat sudah dipenuhi oleh orang-orang yang ingin mengabadikan moment tersebut. Jadi yang terjadi adalah kita harus permisi untuk gantian berfoto dan sedikit sikut kanan kiri orang-orang di sekitar kita. Resikonya adalah ada orang lain di foto kita, ntah itu di kiri atau di kanan kita. Sebenarnya sangat mengganggu sih, tapi it’s OK lah.. toh itu juga kan tempat umum. Semua orang juga berhak untuk berfoto. Yah..lesson learnt-nya next time kita datang lebih awal dan booking spot, dan kalau bisa jangan datang di saat weekend karena shelter tersebut akan sangat ramai.

Thanks to A yi Aime (tantenya Davina) yang udah temenin kita jalan-jalan mulai dari Malang sampai ke Gunung Bromo. Udah carterin kita mobil dan menyiapkan kebutuhan kita semua, sampai jadi tukang foto kita. Thanks ya A yi..

Setelah puas foto-foto kami pun melanjutkan perjalan ke Gunung Bromo menuju puncaknya untuk melihat kawah gunung berapa yang masih aktif. Davina sudah bangun dan sudah sadar, dan sangat bersemangat. Apalagi mamanya bercerita kalau nantinya mereka akan naik kuda. Kami pun turun ke arah parkiran mobil. Sempat bingung mencari mobil yang kami naikin tadi pagi, namun akhirnya ketemua juga.

DSC_0385
Menuju parkiran mobil

Perjalan menuju starting point Gunung Bromo kami disuguhkan pemandangan yang sangat indah. Di beberapa spot kami ditawarkan oleh drivernya untuk berhenti dan berfoto. Tawaran tersebut pun kami terima dan hasilnya lebih bagus dari Pananjakan 1, karena sepi dan bebas bisa gaya ini itu, ditambah Davina sudah semangat. Dalam perjalanan menuju kaki gunung, kami pun sarapan di mobil.

DSC_0394
Mommy, Davina, dan Papa

Sesampainya di kaki Gunung Bromo, hamparan pasir tampak luas sepanjang mata memandang. Mobil kami pun parkir parkir di dekat Gunung Batok yang fotogenik, sangat indah dan cantik difoto dari sudut mana saja. Bentuknya kerucut sempurna. Di sana sudah banyak warung-warung dadakan yang buka untuk melayani sarapan. Di dekat tempat parkir kendaraan bermotor ini ada toilet umum. Sebelum memulai perjalan kami Davina ke toilet dulu. Toilet umum lumayan bersih dan layaklah untuk dipakai. Kuda yang sudah saya booking sebelumnya melalui hotel sduah menunggu. Sebenarnya jarak dari parkiran menuju anak tangga sekitar 500 meteran dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Namun kalau takut capek tentunya bisa menyewa jasa kuda untuk sampai di anak tangga menuju puncak bromo. Setelah itu tentunya kita harus usaha sendiri untuk mencapai puncak Gunung Bromo. Kuda-kuda ini disewakan oleh suku asli di Bromo, yaitu Suku Tengger, yang mempunyai ciri khas menggunakan sarung yang di selendangkan di bagian pundak nya. Terkadang mereka menggunakannya sebagai masker darurat.

DSC_0531
Jasa sewa kuda oleh penduduk asli setempat

Oh ya, jangan lupa ya untuk memakai masker. Saat menaiki kuda tunggang, sebaiknya kenakanlah masker penutup hidung untuk menghindari debu-debu pasir yang berterbangan, terutama saat musim kemarau. Bila perlu, kenakan pula kacamata untuk menghindari mata kemasukan debu pasir saat angin bertiup. Lumayan ribet..tapi semua  ini gak sebanding nilainya dengan petualangan seru yang akan terekam di memori kita dan anak-anak kita.

Eng..ing..eng the most fun part for the kids is riding the horse. Betul.. Naik kuda dengan pemandangan yang luar biasa! Davina sangat senang saat menaiki kuda, bahkan dia memilih kudanya sendiri dari 3 ekor kuda yang saya sewa. Di atas kuda pun sesekali dia teriak kegirangan.

DSC_0398
Davina dan Mommy naik kuda

Akhirnya kuda kami pun sampai di kaki anak tangga menuju Kawah Bromo dan mengharuskan kami turun dari kuda.Segera kami bersiap menaiki 250 anak tangga Kawah Bromo. Uniknya di sana sangat banyak orang yang menawarkan jasa gendong anak bagi orang tua yang merasa berat untuk menggendong anaknya sendiri. Jasa gendong anak di Bromo ini sebenarnya sangat membantu terutama bagi orangtua yang membawa anak-anak, karena menaiki 250 anak tangga itu bukan perkara mudah bagi orang dewasa, apalagi anak-anak. Nafas yang mulai ngos-ngosan dan ada kemungkinan di tengah perjalanan si kecil merengek minta digendong karena mulai kecapekan. Namun untuk kali ini saya sudah niat untuk menggendong Davina dengan kekuatan sendiri untuk sampai ke atas. Saya menggunakan kid carrier untuk membawa Davina.

Sepanjang perjalanan menapakai anak tangga, Davina sangat senang. Terkadang dia teriak kegirangan, bahkan bernyanyi. Tentunya hal ini menambah semangat papanya he..he.. Beberapa kali istirahat dan berhenti sejenak, akhirnya kami pun sampai di puncak Gunung Bromo. Thanks God, satu lagi perjalanan indah kami lalui bersama dengan tidak ada halangan berarti.

DSC_0477
Puncak Gunung Bromo dengan latar belakang Gunung Batok
DSC_0446
Hati-hati di pinggir kawah ya..

Yang harus diperhatikan adalah saat di tepi bibir kawah Bromo, pegang erat tangan anak anda, jangan pernah dilepas, karena pagar yang bolong inilah satu-satunya pembatas antara tempat pengunjung berdiri dan jurang menuju kawah. Jadi hati-hati ya..

Setelah puas foto-foto kami pun segera turun. Awalnya Davina mau digendong dengan menggunakan kid carrier, namun di tengah perjalanan dia minta turun. Untuk turun anak tangga juga kita harus ekstra hati-hati karena kondisi anak tangga licin karena pasir. Sesampainya di bawah anak tangga, Davina malah main asyik main pasir.

DSC_0502
Davina main pasir

Puas main pasir kami pun pulang menuju hotel Cemara Indah. So speaking of taking your children to Mount Bromo, you should have no doubt to take them with you. Gunung Bromo sangat aman untuk anak-anak. Davina, 3 tahun, sangat menikmatinya. Kembali ke hotel, kami pun menikmati sarapan pagi dengan latar belakang pemandangan Gunung Bromo.

IMG_4107_edit
Thanks to A yi for taking this picture

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s