Pelesiran di Ho Chi Minh, Vietnam (1)

Beberapa waktu lalu teman saya berkesempatan jalan-jalan ke Vietnam dan meminta saran dari saya. Saya pun jadi teringat akan perjalanan yang pernah kami lakukan di negara yang sama khususnya di kota Ho Chi Minh beberapa tahun lalu. Bongkar-bongkar foto lama dan coba mengingat-ingat kejadian masa lalu, saya coba tuangkan cerita perjalanan kami di blog ini. Mungkin ada cerita yang mungkin berguna buat pembaca yang numpang lewat. Dan nanti saya coba akan beri tips yang mungkin berguna dan bisa dipakai saat berkunjung ke tempat tersebut.

Ho Chi Minh sebelumnya dikenal sebagai Saigon. Ho Chi Minh bersama dengan Hanoi menjadi kota terpenting  dan menjadi pusat pariwisata di Vietnam. Banyak destinasi menarik yang ada di Vietnam seperti Ben Than Market, War Remnant Museum, Notre Dame Cathedral, Reunification Palace, dan lainnya.

Mempunyai karakterisktik cuaca yang sama dengan Indonesia, Ho Chi Minh hanya mempunyai musim kemarau dan hujan dan relatif lembab. Di negara ini, kita mungkin akan berasa kaya he..he.. Kenapa? Karena mata uang Vietnam (Vietnam Dong – VND) lebih murah dari Rupiah. 1 VND kurang lebih 0.6 IDR.

vietnam1
Dengan latar belakang Sungai Mekong

Menggunakan kendaraan umum atau public transportation di Vietnam lumayan nyaman. Public transportation disubsidi oleh negara sehingga sangat murah. Naik bus umum semacam bus Damri kalau di Indonesia hanya sekita 4000 VND (sekitar 2000 IDR). Cukup murah bukan? Dari bandara Tan Son Nhat International Airport naik bus kota jurusan 152 yang menuju Ben Than Station. Bus ini melewati Pham Ngu Lao Street yaitu pusat backpacker, dimana banyak tersedia hotel dan hostel yang murah untuk ukuran backpacker. Namun bus ini hanya melayani sampai sore saja, jadi apabila kita tiba di Vietnam pada malam hari kita harus menggunakan moda transportasi taksi atau shuttle car via travel agent.

Beberapa destinasi menarik yang sempat dikunjungi antara lain:

Gedung Rakyat

Dari seberang Ben Than Market kita dapat berjalan kaki menuju Gedung Rakyat yang terletak di taman kota. Ada spot yang menarik dan terkenal, yaitu patung Bapak Negara – Ho Chi Minh menimang anak perempuan. Nama beliaulah yang menggantikan nama Saigon yang sekarang menjadi Kota Ho Chi Minh. Untuk keliling kota kita juga dapat menggunakan transportasi tradisional, yaitu semacam becak roda 3 seperti yang ada di Jogja hanya saja ukurannya lebih kecil. Hanya muat 1 orang saja.

vietnam2
Di depan patung Ho Chi Minh

Notre Dame Cathedral

Dari Gedung Rakyat, kita dapat melanjutkan perjalanan ke Notre Dame Cathedral. Spot ini sangat gampang ditemui dengan ciri khasnya yang unik. Walaupun gereja ini sudah berusia 135 tahun (dibangun kira-kira tahun 1880) tetapi masih sangat kokoh. Gaya arsitektur eropa sangat kental. Hal ini karena Vietnam bekas jajahan Perancis. Didominasi dengan bata merah, gereja ini terlihat sangat cantik. Spot ini sepertinya sering dipakai untuk photo session. Pada saat itu kami melihat sepasang calon pengantin melakukan foto pre wedding.

Gereja ini memiliki 2 menara utama yang sama tinggu. Di depan gereja tersebut terdapat sebuah taman kecil dengan patung Bunda Maria tepat berada di tengahnya.

 

Reunification Palace

Dari Notre Dame, kita dapat melanjutkan perjalanan ke Reunification Palace. Pda saat itu kami tidak masuk ke dalamnya karena hari sudah sore. Jadi hanya foto di depan gerbangnya saja he..he..

Gedung ini sangat bersejarah karena gedung ini pernah menjadi istana kepresidenan Vietnam Selatan pada waktu perang Vietnam. Awalnya gedung ini bernama Independence Palace. Namun setelah terjadi kesepakatan antara komunis di Vietnam Utara dan Vietnam Selatan, nama gedung ini pun berubah menjadi Reunification Palace.

vietnam5
Di depan Reunification Palace

 OK.. break dulu ya..!! Akan ada part 2-nya..

Mangulosi, Sebuah Tradisi Adat Batak

Beberapa waktu yang lalu, saya dikirim foto-foto pernikahan adik saya tempo hari yang dilangsungkan di Medan. Nah, ada satu momen dimana kami memberikan ulos kepada pengantin. Davina, tiba-tiba muncul, diantara ulos yang akan kami sampaikan ke adik kami saat itu.

ulos03

ulos04

Di antara serangkaian acara pernikahan adat Batak yang panjang, ada satu momen dimana pengantin diberikan ulos atau dalam bahasa Bataknya dikatakan “mangulosi”. Mangulosi adalah salah satu hal yang teramat penting dalam adat Batak, yaitu pemberian kain tenun khas Batak (Ulos). Filosofi tersendiri oleh nenek moyang orang Batak bahwa kain ulos itu sendiri mempunyai makna pemberian perlindungan dari segala cuaca dan keadaan-keadaan yang tidak baik. Sedemikian pentingnya ulos ini untuk kehidupan sehari-hari, sehingga para leluhur orang Batak selalu memilih ulos sebagai pemberian untuk orang-orang yang mereka sayangi.

Tidak sembarang orang bisa mangulosi atau memberi ulos. Aturan yang pasti adalah Ulos hanya diberikan kepada pihak yang tingkat kekerabatannya dalam hal ini, partuturan, lebih rendah. Misalnya: dari hulahula untuk parboruan (pihak perempuan) atau dari orangtua untuk anak-anaknya atau dari haha (abang/kakak) untuk angginya (adik). Jadi kita tidak akan pernah menemukan orang Batak yang mangulosi orang tuanya sendiri atau ada seorang adik mangulosi abangnya.

Suatu waktu nanti saya akan menulis lebih spesifik tentang ulos dalam adat Batak.

Berikut saya nikmati dulu foto-foto lucu yang dikirim oleh adik saya kemarin.

ulos01

ulos02