Pengalaman Menginap di Rumah Pohon, Taman Safari Cisarua Bogor

Minggu lalu seorang teman saya bertanya tentang pengalaman menginap di Rumah Pohon, Taman Safari Cisarua Bogor. Kenapa tidak sekalian saja saya tulis di blog keluarga?

Sebelumnya Kak Vina selalu mengatakan ingin menginap di rumah pohon seperti di film-film animasi yang pernah ia lihat? Ternyata ada lho hotel yang menyerupai rumah pohon tersebut. Rumah pohon tersebut ada di Taman Safari Cisarua, Bogor. Lengkap dengan jembatan gantung untuk akses jalannya antar rumah.

Kalau tidak salah ya, terdapat 8 unit rumah pohon. Empat unit yang lama dan empat unit yang baru. Bedanya di unit rumah yang baru terdapat perosotan dari lantai 2 (mezzanine) langsung ke lantai 1. Jadi seru kan?  Secara keseluruhan fasilitas sama yaitu setiap unit terdapat 1 double bed dan 1 bed bertingkat (bisa untuk kapasitas 4-6 orang) ditambah extra bed di ruang tengah, 2 kamar mandi, pantry untuk memasak, sofa di ruang tamu, televisi di kamar utama, lahan parkir untuk 1 mobil, dan tempat untuk bersantai sekaligus menyalakan api unggun di bagian luar hotel. Untuk interior ruangan didominasi ornamen serba kayu yang dibentuk sedemikian rupa walaupun dibentuk dari semen. Mulai dari dinding, lantai, hingga tempat tidur.

Selain desainnya yang unik, lokasi Tree House ini dikelilingi pula oleh pepohonan sehingga membuat kita seperti tinggal di tengah hutan. Apalagi lokasi Taman Safari tepat berada di kaki Gunung Gede Pangrango, jadi udaranya dijamin sejuk dan segar. Tidak seperti udara di Ibukota Jakarta belakangan ini.

Namun menginap di hotel ini sih lumayan harganya. Per malamnya dikenai tarif Rp 2,2 juta untuk weekend, yang pastinya untuk weekdays mungkin lebih murah. Akan tetapi ini untuk unit Rumah Pohon yang baru ya.. yang di dalamnya terdapat perosotan. Untuk unit rumah yang lama (yang tidak ada fasilitas perosotan) lebih murah Rp 200 ribu. Tetapi dijamin anak-anak akan senang dan bahagia.

Romah Pohon ini ada dalam kawasan Taman Safari Cisarua Bogor. Untuk menuju area Rumah Pohon kita harus naik kendaraan (mobil) karena jaraknya cukup jauh mungkin dan paling ujung dari kawasan penginapan. Jadi kita akan melewati area penginapan yang lain terlebih dahulu; yaitu Safari Lodge, Caravan dan Bungalow-nya. Oh ya, tentunya menginap di Rumah Pohon ini sudah termasuk sarapan di Restoran Caravan yang ada di area penginapan Taman Safari (area depan pintu masuk).

Apakah menyenangkan menginap di Rumah Pohon Taman Safari Cisarua Bogor? Buat kami sekeluarga jawabannya tentu saja “YA”. Apalagi unit rumah Pohon Kami terdapat perosotannya, Kak Vina tidak bosan-bosannya naik turun bahkan sampai malam pun dia masih saja bermain. Pemandangan di sekitar Rumah Pohon juga masih terasa “hutan”-nya. Ada suara jangkrik, kadang kita mendengar suara binatang-binatang malam (nokturnal) yang tentunya memberikan pengalaman baru dan berbeda bagi anak-anak. Kalau kita menginap di area caravan dan bungalow yang sangat ramai, mungkin kita tidak mendapatkan pengalaman ini.

Saran saya sih untuk itinerary minimal 2 hari 1 malam. Hari pertama dari siang sampai sore kita bisa jalan-jalan ke kebun binatangnya dan menonton beberapa show pertunjukan atraksi binatang. Mungkin luangkan waktu kita sejenak ke Istana Panda untuk melihat 2 panda lucu yang langsung didatangkan dari China. Akan tetapi kendaraan pribadi tidak boleh memasuki kawasan tersebut. Jadi kita harus naik shuttle bus yang sudah disediakan pihak Taman Safari. Kita dapat memarkir terlebih dahulu kendaraan kita, lalu berjalan ke halte bus yang akan membawa kita ke Istana Panda. Jangan takut di Istana Panda terdapat food court yang menyediakan berbagai jenis makanan, termasuk bakpao yang dibentuk seperti panda. Jadi dijamin anak-anak pasti suka.

rumah pohon02

 

Setelah sore menjelang malam, kita baru check in ke Rumah Pohon dan besoknya dapat melanjutkan kembali jalan-jalan ke Taman Safari atau berenang di kolam renang yang terdapat dekat dengan area restoran tempat para pengunjung sarapan pagi.

Sampai jumpa di pengalaman berikutnya…

 

 

Nonton Musik Klasik

Minggu lalu, kita mengajak Cece Davina nonton musik klasik. Tempatnya di Aula Simfonia Jakarta, Kemayoran. Selama ini hanya dapat membayangkan dan melihat layout ruangan konser ini dari internet. Di luar dugaan, ternyata gedung Aula Simfonia Jakarta ini adalah gedung indah yang kelihatannya memang sudah didisain sejak awal untuk keperluan pagelaran sebuah orchestra atau pertunjukan sejenis. Hal ini terlihat jelas dari tata-ruang serta interior yang dihiasi pernak pernik layaknya sebuah “Concert Hall” yang banyak dijumpai di kota-kota Eropa. Ukuran hall memang tidak terlalu besar, namun suasana di dalam sangat klasik dan rasa “western” sungguh kental.

Kali ini kita menonton Grand Concert Tour 2018 Jakarta Simfonia Orchestra, dengan Conductor DR. Stephen Tong. Konser ini diadakan di beberapa kota di Indonesia dan juga di Singapore dan Kuala Lumpur. Untuk konser pertamanya diadakan di kota Jakarta. Seharusnya untuk menonton pertunjukan musik klasik kelas dunia kita harus merogoh kocek yang tidak sedikit, minimal jutaan rupiah. Namun tidak untuk konser kali ini, kita dapat menikmati pertunjukan ini hanya dengan 300 ribu rupiah per orang. Ya, sangat murah sekali. Ternyata Pak Tong punya terinspirasi dengan motonya Air Asia, yaitu “Everybody can fly”. Ya, artinya semua orang dapat menikmati musik klasik, tidak perlu mahal.

IMG_0420 copy

Komposisi yang dibawakan pada acara konser tersebut juga sangat familiar di telinga Cece Davina. Cece Davina sering mendengar nomor-nomor klasik dari Suppe, Mozart, dan Beethoven yang disetel oleh ie ie ataupun saya. Intinya Cece Davina sangat senang menonton konser kali ini.

IMG_0411 (1) copy

Pelesiran di Ho Chi Minh, Vietnam (1)

Beberapa waktu lalu teman saya berkesempatan jalan-jalan ke Vietnam dan meminta saran dari saya. Saya pun jadi teringat akan perjalanan yang pernah kami lakukan di negara yang sama khususnya di kota Ho Chi Minh beberapa tahun lalu. Bongkar-bongkar foto lama dan coba mengingat-ingat kejadian masa lalu, saya coba tuangkan cerita perjalanan kami di blog ini. Mungkin ada cerita yang mungkin berguna buat pembaca yang numpang lewat. Dan nanti saya coba akan beri tips yang mungkin berguna dan bisa dipakai saat berkunjung ke tempat tersebut.

Ho Chi Minh sebelumnya dikenal sebagai Saigon. Ho Chi Minh bersama dengan Hanoi menjadi kota terpenting  dan menjadi pusat pariwisata di Vietnam. Banyak destinasi menarik yang ada di Vietnam seperti Ben Than Market, War Remnant Museum, Notre Dame Cathedral, Reunification Palace, dan lainnya.

Mempunyai karakterisktik cuaca yang sama dengan Indonesia, Ho Chi Minh hanya mempunyai musim kemarau dan hujan dan relatif lembab. Di negara ini, kita mungkin akan berasa kaya he..he.. Kenapa? Karena mata uang Vietnam (Vietnam Dong – VND) lebih murah dari Rupiah. 1 VND kurang lebih 0.6 IDR.

vietnam1
Dengan latar belakang Sungai Mekong

Menggunakan kendaraan umum atau public transportation di Vietnam lumayan nyaman. Public transportation disubsidi oleh negara sehingga sangat murah. Naik bus umum semacam bus Damri kalau di Indonesia hanya sekita 4000 VND (sekitar 2000 IDR). Cukup murah bukan? Dari bandara Tan Son Nhat International Airport naik bus kota jurusan 152 yang menuju Ben Than Station. Bus ini melewati Pham Ngu Lao Street yaitu pusat backpacker, dimana banyak tersedia hotel dan hostel yang murah untuk ukuran backpacker. Namun bus ini hanya melayani sampai sore saja, jadi apabila kita tiba di Vietnam pada malam hari kita harus menggunakan moda transportasi taksi atau shuttle car via travel agent.

Beberapa destinasi menarik yang sempat dikunjungi antara lain:

Gedung Rakyat

Dari seberang Ben Than Market kita dapat berjalan kaki menuju Gedung Rakyat yang terletak di taman kota. Ada spot yang menarik dan terkenal, yaitu patung Bapak Negara – Ho Chi Minh menimang anak perempuan. Nama beliaulah yang menggantikan nama Saigon yang sekarang menjadi Kota Ho Chi Minh. Untuk keliling kota kita juga dapat menggunakan transportasi tradisional, yaitu semacam becak roda 3 seperti yang ada di Jogja hanya saja ukurannya lebih kecil. Hanya muat 1 orang saja.

vietnam2
Di depan patung Ho Chi Minh

Notre Dame Cathedral

Dari Gedung Rakyat, kita dapat melanjutkan perjalanan ke Notre Dame Cathedral. Spot ini sangat gampang ditemui dengan ciri khasnya yang unik. Walaupun gereja ini sudah berusia 135 tahun (dibangun kira-kira tahun 1880) tetapi masih sangat kokoh. Gaya arsitektur eropa sangat kental. Hal ini karena Vietnam bekas jajahan Perancis. Didominasi dengan bata merah, gereja ini terlihat sangat cantik. Spot ini sepertinya sering dipakai untuk photo session. Pada saat itu kami melihat sepasang calon pengantin melakukan foto pre wedding.

Gereja ini memiliki 2 menara utama yang sama tinggu. Di depan gereja tersebut terdapat sebuah taman kecil dengan patung Bunda Maria tepat berada di tengahnya.

 

Reunification Palace

Dari Notre Dame, kita dapat melanjutkan perjalanan ke Reunification Palace. Pda saat itu kami tidak masuk ke dalamnya karena hari sudah sore. Jadi hanya foto di depan gerbangnya saja he..he..

Gedung ini sangat bersejarah karena gedung ini pernah menjadi istana kepresidenan Vietnam Selatan pada waktu perang Vietnam. Awalnya gedung ini bernama Independence Palace. Namun setelah terjadi kesepakatan antara komunis di Vietnam Utara dan Vietnam Selatan, nama gedung ini pun berubah menjadi Reunification Palace.

vietnam5
Di depan Reunification Palace

 OK.. break dulu ya..!! Akan ada part 2-nya..